Saturday, 23 June 2012

PSIKOLOGI DAN KEPRIBADIAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN


Para psikolog memandang kepribadian sebagai struktur dan proses psikologis yang tetap, yang menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk berbagai tindakan dan respons individu terhadap lingkungan tempat hidup.Dalam masa pertumbuhannya, kepribadian bersifat dinamis, berubah-ubah dikarenakan pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, ataupun pendidikan. Kepribadian tidak terjadi secara serta merta, tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Dengan demikian, apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk, kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan kehidupan seseorang tersebut.

Pergulatan Psikologis
Dalam kepribadian manusia terkandung sifat-sifat hewan dan sifat-sifat malaikat yang terkadang timbul pergulatan antara dua aspek kepribadian manusia tersebut. Adakalanya, manusia tertarik oleh kebutuhan dan syahwat tubuhnya, dan adakalanya ia tertarik oleh kebutuhan spiritualnya.
Al-Qur’an mengisyaratkan pergulatan psikologis yang dialami oleh manusia, yakni antara kecenderungan pada kesenangan-kesenangan jasmani dan kecenderungan pada godaan-godaan kehidupan duniawi.Jadi, sangat alamiah bahwa pembawaan manusia tersebut terkandung adanya pergulatan antara kebaikan dan keburukan, antara keutamaan dan kehinaan, dan lain sebagainya.Untuk mengatasi pergulatan antara aspek material dan aspek spiritual pada manusia tersebut dibutuhkan solusi yang baik, yakni dengan menciptakan keselarasan di antara keduanya.Disamping itu, Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa manusia berpotensi positif dan negatif.Pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat daripada potensi negatifnya.Hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dibanding daya tarik kebaikan.Potensi positif dan negatif manusia ini banyak diungkap oleh Al-Qur’an. Di antaranya ada dua ayat yang menyebutkan potensi positif manusia, yaitu Surah at-Tin [95] ayat 5 (manusia diciptakan dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya) dan Surah al-Isra’ [7] ayat 70 (manusia dimuliakan oleh Allah dibandingkan dengan kebanyakan makhlik-makhluk yang lain). Di samping itu, banyak juga ayat Al-Qur’an yang mencela manusia dan memberikan cap negatif terhadap manusia. Di antaranya adalah manusia amat aniaya serta mengingkari nikmat (Q.S. Ibrahim [14]: 34), manusia sangat banyak membantah (Q.S. al-Kahfi : 54), dan manusia bersifat keluh kesah lagi kikir (Q.S. al-Ma’arij : 19).
Sebenarnya, dua potensi manusia yang saling bertolak belakang ini diakibatkan oleh perseteruan di antara tiga macam nafsu, yaitu nafsu ammarah bi as-suu’ (jiwa yang selalu menyuruh kepada keburukan), lihat Surah Yusuf [12] ayat 53; nafsu lawwamah (jiwa yang amat mencela), lihat Surah al-Qiyamah [75] ayat 1-2; dan nafsu muthma’innah (jiwa yang tenteram), lihat Surah al-Fajr [89] ayat 27-30. Konsepsi dari ketiga nafsu tersebut merupakan beberapa kondisi yang berbeda yang menjadi sifat suatu jiwa di tengah-tengah pergulatan psikologis antara aspek material dan aspek spiritual.

Pola-pola Kepribadian Menurut Al-Qur’an
Kepribadian merupakan “keniscayaan”, suatu bagian dalam (interior) dari diri kita yang masih perlu digali dan ditemukan agar sampai kepada keyakinan siapakah diri kita yang sesungguhnya.Dalam Al-Qur’an Allah telah menerangkan model kepribadian manusia yang memiliki keistimewaan dibanding model kepribadian lainnya.Di antaranya adalah Surah al-Baqarah [2] ayat 1-20.Rangkaian ayat ini menggambarkan tiga model kepribadian manusia, yakni kepribadian orang beriman, kepribadian orang kafir, dan kepribadian orang munafik.
Berikut ini adalah sifat-sifat atau ciri-ciri dari masing-masing tipe kepribadian berdasarkan apa yang dijelaskan dalam rangkaian ayat tersebut.

a. Kepribadian Orang Beriman (Mu’minun)

Dikatakan beriman bila ia percaya pada rukun iman yang terdiri atas iman kepada Allah swt., iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada Kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, percaya pada Hari Akhir, dan percaya pada ketentuan Allah (qadar/takdir). Rasa percaya yang kuat terhadap rukun iman tersebut akan membentuk nilai-nilai yang melandasi seluruh aktivitasnya. Dengan nilai-nilai itu, setiap individu seyogianya memiliki kepribadian yang lurus atau kepribadian yang sehat. Orang yang memiliki kepribadian lurus dan sehat ini memiliki ciri-ciri antara lain:
Akan bersikap moderat dalam segala aspek kehidupan,
Rendah hati di hadapan Allah dan juga terhadap sesama manusia,Senang menuntut ilmu,Sabar,Jujur, dan lain-lain.
Gambaran manusia mukmin dengan segenap ciri yang terdapat dalam Al-Qur’an ini merupakan gambaran manusia paripurna (insan kamil) dalam kehidupan ini, dalam batas yang mungkin dicapai oleh manusia.Allah menghendaki kita untuk dapat berusaha mewujudkannya dalam diri kita. Rasulullah saw. telah membina generasi pertama kaum mukminin atas dasar ciri-ciri tersebut. Beliau berhasil mengubah kepribadian mereka secara total serta membentuk mereka sebagai mukmin sejati yang mampu mengubah wajah sejarah dengan kekuatan pribadi dan kemuliaan akhlak mereka.Jadi Singkatnya, kepribadian orang beriman dapat menjadi teladan bagi orang lain.

b. Kepribadian Orang Kafir (Kafirun)

Ciri-ciri orang kafir yang diungkapkan dalam Al-Qur’an antara lain:
Suka putus asa,
Tidak menikmati kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupannya,
Tidak percaya pada rukun iman yang selama ini menjadi pedoman keyakinan umat Islam,
Mereka tidak mau mendengar dan berpikir tentang kebenaran yang diyakini kaum Muslim,
Mereka sering tidak setia pada janji, bersikap sombong, suka dengki, cenderung memusuhi orang-orang beriman,Mereka suka kehidupan hedonis, kehidupan yang serba berlandaskan hal-hal yang bersifat material. Tujuan hidup mereka hanya kesuksesan duniawi, sehingga sering kali berakibat ketidakseimbangan pada kepribadian,Mereka pun tertutup pada pengetahuan ketauhidan, dan lain-lain.
Ciri-ciri orang kafirsebagaimana yang tergambar dalam Al-Qur’an tersebutmenyebabkan mereka kehilangan keseimbangan kepribadian, yang akibatnya mereka mengalami penyimpangan ke arah pemuasan syahwat serta kesenangan lahiriah dan duniawi.Hal ini membuat mereka kehilangan satu tujuan tertentu dalam kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah dan mengharap rida-Nya untuk mengharap magfirah serta pahala-Nya di dunia dan akhirat.
c. Kepribadian Orang Munafik (Munafiqun)
Munafik adalah segolongan orang yang berkepribadian sangat lemah dan bimbang. Di antara sifat atau watak orang munafik yang tergambar dalam Al-Qur’an antara lain:
Mereka “lupa” dan menuhankan sesuatu atau seseorang selain Allah swt.,
Dalam berbicara mereka suka berdusta,
Mereka menutup pendengaran, penglihatan, dan perasaannya dari kebenaran,
Orang-orang munafik ialah kelompok manusia dengan kepribadian yang lemah, peragu, dan tidak mempunyai sikap yang tegas dalam masalah keimanan.Mereka bersifat hipokrit, yakni sombong, angkuh, dan cepat berputus asa.
Ciri kepribadian orang munafik yang paling mendasar adalah kebimbangannya antara keimanan dan kekafiran serta ketidakmampuannya membuat sikap yang tegas dan jelas berkaitan dengan keyakinan bertauhid.
Dengan demikian, umat Islam sangat beruntung mendapatkan rujukan yang paling benar tentang kepribadian dibanding teori-teori lainnya, terutama diyakini rujukan tersebut adalah wahyu dari Allah swt.yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw., manusia teladan kekasih Allah. Oleh karena itu pula, Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah swt. ke muka bumi untuk memainkan peran sebagai model insan kamil bagi umat manusia. Kepribadian dalam kehidupan sehari-hari mengandung sifat-sifat manusiawi kita, alam pikiran, emosi, bagian interior kita yang berkembang melalui interaksi indra-indra fisik dengan lingkungan.Namun lebih dalam lagi, kepribadian sesungguhnya merupakan produk kondisi jiwa (nafs) kita yang saling berhubungan.Atau, dapat dikatakan pula bahwa kepribadian seseorang berbanding lurus dengan kondisi jiwanya (nafs).
Berangkat dari teori kepribadian di atas, maka kita dapat membagi kepribadian manusia menjadi dua macam, yaitu:

1. Kepribadian kemanusiaan (basyariyyah)
Kepribadian kemanusiaan di sini mencakup kepribadian individu dan kepribadian ummah. Kepribadian individu di antaranya melliputi ciri khas seseorang dalam bentuk sikap, tingkah laku, dan intelektual yang dimiliki masing-masing secara khas sehingga ia berbeda dengan orang lain. Dalam pandangan Islam, manusia memang mempunyai potensi yang berbeda (al-farq al-fardiyyah) yang meliputi aspek fisik dan psikis. Selanjutnya, kepribadian ummah meliputi ciri khas kepribadian muslim sebagai suatu ummah (bangsa/negara) muslim yang meliputi sikap dan tingkah laku ummah muslim yang berbeda dengan ummah lainnya, mempunyai ciri khas kelompok dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan identitas tersebut dari pengaruh luar, baik ideologi maupun lainnya yang dapat memberikan dampak negatif.

2. Kepribadian samawi (kewahyuan)
Yaitu, corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci Al-Qur’an, sebagaimana termaktub dalam firman Allah sebagai berikut.
"Dan, bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Q.S. al-An’am : 153)

Itulah beberapa gambaran mengenai psikologi dan kepribadian manusia dalam Al-Qur’an.Tentu gambaran di atas belum sepenuhnya berhasil meng-cover keseluruhan maksud Al-Qur’an mengenai manusia dengan segala kepribadiannya yang sangat kompleks.Sebab, begitu luasnya aspek kepribadian manusia sehingga usaha untuk mengungkap hakikat manusia merupakan pekerjaan yang sukar.Walaupun demikian, paling tidak penjelasan di atas dapat memberikan gambaran bahwa manusia memiliki dua potensi yang saling berlawanan, yaitu potensi baik dan potensi buruk.Dua potensi ini lantas memilah manusia ke dalam tiga kategori, yaitu mukmin, kafir, dan munafik. Pembinaan kepribadian manusia lewat pendidikan yang baik akan menuntun manusia agar bisa memperkokoh potensi baiknya sehingga ia bisa memaksimalkan tugas utamanya untuk beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah Allah di muka bumi. Sebaliknya, pembinaan kepribadian manusia yang kurang maksimal akan memerosokkan manusia ke dalam derajat yang sangat rendah, bahkan lebih rendah dari binatang.

http//annisahidayat.wordpress.com/.../psikologi-dan-kepribadian-manusia

wallahu'alam..

Sunday, 10 June 2012

CINTA MENURUT AJARAN AGAMA

Ada yg berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama.tetapi dalam kenyataan hidup manusia masih mendambakn tegaknya cinta dalam kehidupan ini.Dilain pihak cinta didengungkan lewat lagu & organisasi perdamaian dunia,tetapi dilain pihak dalam praktek kehidupan,cinta sebagai dasar kehidupan sangat jauh dari kenyataan.
Atas dasar inilah agama membrikan ajaran cinta kepada manusia.

Nabi Ibrahim mendapat kritik tentang cinta,dimana saat itu Nabi Ibrahim mendambakn s'orang anak.Setelah anak yang dicintainya ( Ismail ) lahir,ternyata cinta nabi Ibrahim menggeser cintanya kepada Tuhan,sehingga Tuhan mengujinya menyuruh menyembelih anaknya.Printah ini menimbulkan konflik dalam diri Nabi Ibrahim,siapa yang harus dicintainya,Tuhan atau anaknya.
Dari pristiwa ini membrikan indikasi kepada kita bahwa cinta itu harus proposional & adil,tidak lupa diri karena cinta.
Untuk itu agama membrikan tuntunan tentang cinta.

Berbagai bentuk cinta ini terdapat didalam al-Qur'an.

1.Cinta diri
Al-Qur'an telah mengungkapkn cinta alamiah manusia terhadp dirinya sendiri,menuntut segala sesuatu yang baik & menghindari dari segala yg buruk.
cinta macam ini telah digambarkn dalam al-qur'an
''Manusia tdk jemu2 memohon kebaikan,tetapi jka mereka ditimpa malapetaka,dia menjadi putus asa lagi putus harapan ( QS-Fushilat :49 )

2.Cinta kepada sesama manusia.
''sesungguhnya orang2 mukmin bersaudara,krna itu damaikanlah antara kedua saudaramu & kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS: Al-Hujarat:10 )
Cinta diantara sesama mnusia mnurut ajaran islam ditandai dengan sikap yg lebih mengutamakn atau mencintai orang lain daripda dirinya sendiri.

3.Cinta Seksual
Kita semua tau bahwa cinta itu erat kaitannya dengan dorongan seksual.Hal ini dlukiskn dlm Al-Qur'an;
''Dan diantara tanda2 kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri2 dari jenismu sendiri supaya kamu cendrung & merasa tentram kepadanya,& dijadikannya diantaramu rasa kasih sayang.Sesungguhnya pada yg demikian itu benar2 terdapat tanda2 bagi kamu yg brpikir (QS:Ar-Ruum:21)

4.Cinta kpda Allah swt.
Inilah puncak cinta manusia yg paling bening,jrnih & spritual ialah cintanya kepada Allah & kerinduan kepada-Nya.tidak hanya shalat,pujian & doa,tetapi semua tindakan & tingkah lakunya ditujukan kepada Allah.Mengharapkan penerimaan & ridha-Nya.
''Katakanlah:"Jika bapak2,anak2 saudara,istri2 kaum keluargamu,harta kekayaan yg kamu usahakan,perniagaan yg kamu khawatir kerugiannya & rumah2 tempat tinggal yg kamu sukai,lebih kamu cintai dripda Allah & Rasul-Nya & dari berjihad dijalan-Nya,maka tunggulah sampai Allah mendatangkn kputusan-Nya & Allah tidak memberi petunjuk kepada orang2 yg fasik (QS: At-Taubah:24)

5.Cinta kepada Rasul ( Muhammad saw )
Cinta ini merupkan peringkat kedua setlah cinta kepada Allah swt.Hal ini disbabkan karna Rasulullah saw bagi kaum muslimin merupakn contoh ideal yg sempurna bagi manusia,baik dalam tingkah laku,moral & berbagai sifat luhur lainnya.
''Dan sesungguhnya kamu benar2 berbudi pekerti yg agung ( QS:Al-Qalam:9)

6.Cinta kpda Ibu-Bapak (OrangTua)
Cinta ini dalam islam sangat mendasar,yaitu menentukan ridha tidaknya Tuhan kepada manusia.
''Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia,& hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik2nya.Jika salah seorang diantara keduanya / kedua2nya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,maka sesekali-kali janganlah kamu membentak mereka & ucapkanlah kata2 yg mulia.Rendahknlah dirimu terhadap mereka berdua dgn penuh kesayangan,& ucapkanlah:Wahai Tuhan,kasihinilah mereka keduanya sebagaimna mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil ( QS:Al-Isra:23-24 ).

Dari seluruh uraian tentang konsep cinta dalam ajaran islam semoga dapat membrikn kita kejelasan,bhwa makna cinta menurut ajaran islam berbeda dgn makna cinta menurut kajian filsafat.Dimana dalam ajaran islam cinta lebih bersifat realistis & operatif,sedangkan dalam konsep filsafat cinta lebih brsifat abstrak.

PESAN RASULULLAH SEBELUM WAFAT


Sebelum malaikat Izrail diperintah Allah SWT untuk mencabut nyawa Nabi Muhammad SAW, Allah SWT berpesan kepada malaikat Jibril. “Hai Jibril, jika kekasih-Ku menolaknya, laranglah Izrail melakukan tugasnya!” Sungguh berharganya manusia yang satu ini yang tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW.

Di rumah Nabi Muhammad SAW, Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk sambil berkata, “Maafkanlah, ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian Fatimah kembali menemani Nabi Muhammad SAW yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”. “Tak tahulah ayahku, sepertinya orang baru, karena baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah wahai anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut pun datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata malaikat Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya malaikat Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar bahwa Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata malaikat Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)”. Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii! (Umatku, umatku, umatku)”. Dan, berakhirlah hidup manusia yang paling mulia yang memberi sinaran itu.

Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa’alaihi wasahbihi wasallim. Ya Allah, Berikanlah untuk Muhammad “al wasilah” (derajat) dan keutamaan. Dan tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan”. Betapa mendalam cinta Rasulullah kepada kita ummatnya, bahkan diakhir kehidupannya hanya kita yang ada dalam fikirannya. Sakitnya sakaratul maut itu.,tetapi sedikit sekali kita mengingatnya bahkan untuk sekedar menyebut namanya.

Saturday, 9 June 2012

SEPULUH NASEHAT IBNUL QAYYIM RAHIMAHULLAH

Sepuluh Nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk 
menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam
perbuatan maksiat:

1- Hendaknya hamba menyedari betapa buruk, hina dan rendah
perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah
mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga 
hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan
rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat 
sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak 
terkena sesuatu yang membahayakannya.

2- Merasa malu kepada Allah Karena sesungguhnya apabila
seorang hamba menyadari pandangan Allah yang selalu 

mengawasi dirinya dan menyedari betapa tinggi kedudukan Allah 
di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat
dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia 
melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya.Rasa 
malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan 
membuat Anda boleh melihat seolah-olah Anda sedang berada 
di hadapan Allah.
3- sentiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan
kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baikNya padamu.
 Apabila engkau berlimpah nikmat maka jagalah, karena maksiat
akan membuat nikmat hilang dan lenyap
Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang 
diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat
itu sendiri.
4- Merasa takut kepada Allah dan khuatir tertimpa hukuman-Nya
5- Mencintai Allah - karena seorang kekasih tentu akan mentaati
orang yang dikasihinya Sesungguhnya maksiat itu muncul 
diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
6- Menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara
kehormatan dan kebaikannya Sebab perkara-perkara inilah
yang akan membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan
berbagai perbuatan maksiat.
7- Memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya
perbuatan maksiat serta buruknya akibat yang ditimbulkannya
dan juga bahaya yang timbul sesudahnya iaitu berupa muramnya
wajah, kegelapan hati,sempitnya hati dan gundah gulana yang 
menyelimuti diri karena dosa-dosa itu akan membuat hati
menjadi mati.
8- Menghapuskan buaian angan-angan yang tidak berguna.
Dan hendaknya setiap insan menyedari bahwa dia tidak  akan
tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau
dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang  singgah di sana,
dia akan segera berpindah darinya.Sehingga tidak ada sesuatu
pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah
berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan 
membahayakan  dirinya dan sama sekali tidak akan 
memberikan manfaat apa-apa.
9- Hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan,
minum dan berpakaian.Karena sesungguhnya  besarnya
dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat 
berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab 
terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba
adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki kerana jiwa
manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan
sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang
bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal
yang berbahaya baginya.

10- Sebab terakhir adalah sebab yang merangkumi sebab-sebab
di atasi iaitu kekukuhan pohon keimanan yang tertanam
kuat di dalam hati.Maka kesabaran hamba untuk menahan
diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan
imannya. Setiap kali imannya kukuh maka kesabarannya pun
akan kuat dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun
melemah.Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan
sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan
perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kukuh maka
sungguh dia telah keliru.